Slamet Yuliono

SLAMET YULIONO, dilahirkan sebagai anak ke sepuluh dari sebelas bersaudara. Ibu berpendidikan SR Ongko Loro dan Ayah lulusan SMP, tetapi rasa sayang d...

Selengkapnya

Berbagi ......

Wali Siswa Menjadi Guru Ahli Sebagai Solusi

ADA fenomena menarik yang kini seharusnya dipikirkan oleh sekolah mengantisipasi semakin menurunnya semangat belajar siswa. Dan salah satu program yang penulis tawarkan dalam memberikan pencerahan itu adalah prioritas bagi sekolah untuk memberikan pembelajaran unggulan.

Sistem pembelajaran itu adalah penerapan model pembelajaran dengan merekayasa konsep dari konvensional untuk mencari terobosan baru dan mencoba menentang arus pembelajaran yang ‘dianggap’ telah baku. Perekayasaan itu bisa berupa penerapan satu metode pembelajaran dengan mencoba menawarkan situasi baru, misalnya pemberdayaan perwakilan beberapa orang tua siswa (wali murid) yang sukses (berhasil) dalam menjalani kehidupan sosialnya untuk di daulat menjadi guru ahli.

Proses dan model pembelajaran sebagaimana ditawarkan di atas, dikemas dalam satu bentuk pembelajaran pengalaman ‘sang guru’ dengan label Parent’s Day (hari para orang tua) atau istilah lain yang mencitrakan aktifitas pemateri sehari-hari.
Realisasi kegiatan, (sementara) bisa ditawarkan sebulan dua kali. Bila konsep ini dikemas dengan baik akan terasa istimewa bahkan amat spesial bagi anak-anak. Meskipun proses pembelajaran ini hanya berlangsung dengan durasi waktunya sangat singkat, yaitu 2 jam. Mereka berusaha mencoba untuk ‘didapuk’ menjadi seorang guru.

Pertanyaan yang muncul ke permukaan, siapa saja yang berhak memaparkan keahliannya? Tentunya harus melalui seleksi ketat, sehingga akan terpilih para orang tua (wali) yang memiliki integritas tinggi dan dianggap mewakili lingkungan masyarakat ‘terpandang’ dan mampu menjadi contoh (tauladan) masyarakat. Misalnya seorang dosen, pengacara, polisi, sampai pengusaha (wiraswasta) dan bahkan seorang petani dapat saja memberikan pengalaman belajar dan kerjanya untuk mentransferkan ilmu yang dimiliki kepada para siswa.

Terobosan baru dari metode pembelajaran terpadu, karena memakai penerapan gaya pembelajaran yang beragam dan tergolong “unik” ini. Diharapkan membuka cakrawala baru, dunia pendidikan kita. Terutama, bila dikaitkan dengan model pembelajaran yang kini sedang dikembangkan yaitu, model pembelajaran berbasis kompetensi.

Pemaparan Haidar Bagir berupa sindiran terhadap pembelajaran selama ini (Kompas, 20/2/2004) yang memberikan batasan tentang standar kompetensi sebagai pengganti istilah TIK atau yang sekarang bernama TPK, agar proses pembelajaran lebih gamblang. Beliau memaparkan lebih rinci, bahwa bisa saja materi sebuah pelajaran diputus untuk tidak diajarkan di jenjang-jenjang tertentu jika tidak relevan dengan pengembangan kompetensi yang diharapkan oleh lingkungan dan siswa, bahkan akan terasa aneh bila ilmu yang telah diterima seorang siswa ternyata jauh dari kenyataan kehidupan mereka sendiri.

Dengan metode pembelajaran oleh seorang guru yang bebas (dalam istilah perguruan tinggi di istilahkan dosen tamu), karena pola mengajarnya tidak terikat pada acuan baku kurikulum, tetapi harus mewakili berbagai disiplin ilmu dan materi bahasan lebih diperluas ini, yang tentunya disesuaikan dengan keahlian dari pemaparan guru ahli dalam memberikan materi kepada siswa. Maka para siswapun bisa menggagas sekaligus mencerna pemikiran “guru tamu” ini sehingga siswa di beri kesempatan mengekspresikan segala yang tidak diketahui dengan bebas, tidak dibatasi rumusan-rumusan mati seperti pada proses pembelajaran yang sekarang terjadi.

Sebagai bahan tambahan bekal ilmu untuk siswa, agar proses pembelajaran yang selama ini menerapkan pola pikir monoton dan bahkan menjemukan itu bisa berubah suasananya. Rupanya dengan mencoba mencari terobosan baru, seperti mendatangkan beberapa pakar yang sangat paham pada bidang ilmunya. Bisa dijadikan alternatif pemecahan dari kebekuan pikir yang selama ini telah lama berlangsung.

Kelebihan dan Kelemahan Metode Ini

Hasil yang diharapkan dari alternatif model pembelajaran ini, memang masih harus diuji cobakan lebih mendetil sampai sejauh mana efektivitasnya dalam mencari terobosan baru ini berhasil. Yang jelas perlu waktu relatif panjang dan berproses, suatu kegiatan baru bisa dilihat efektivitasnya.

Hanya sebagai bahan pembanding saja, setidaknya keterangan di bawah (lihat tabel 1) bisa dijadikan alasan mendasar, tentang perlunya pembelajaran alternatif ini coba diberikan di sekolah. Dengan menengok kelebihan dan kelemahan metode ini, dalam perspektif pendidikan diharapkan wacana alternatif pembelajaran ini akan bermanfaat bagi semua pihak.

Pertanyaan yang muncul kemudian, setelah melihat kelebihan dan kekurangannya, rasanya ada sesuatu yang menarik untuk dicermati, terutama dalam merealisasikan Kurikulum
yang terus mengalami perubahan. Siapa yang berani mencoba melakukan tindakan eksperimen semacam ini ?. Kita tunggu saja !

Si Pembelajar - Slamet Yuliono -

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Komentar

Bergabung bersama komunitas Guru Menulis terbesar di Indonesia!

Menulis artikel, berkomentar, follow user hingga menerbitkan buku

Mendaftar Masuk     Lain Kali