Slamet Yuliono

SLAMET YULIONO, dilahirkan sebagai anak ke sepuluh dari sebelas bersaudara. Ibu berpendidikan SR Ongko Loro dan Ayah lulusan SMP, tetapi rasa sayang d...

Selengkapnya
Berbagi ......
http://happyvalentinesday14feb.blogspot.co.id

Berbagi ......

Valentine Day's Guru Berbuat Apa !

APABILA kita mau mendengar rasan-rasan siswa pada jenjang/tingkat sekolah menengah pertama (SMP) apalagi setingkat sekolah menengah atas (SMA/SMK) aktivitas bernama valentine day’s yang bertepatan tanggal 14 Febuari dengan pemaknaan sempit hari kasih sayang, seharusnya kita (guru) prihatin sekaligus miris.

Anak di usia panca roba dengan ciri lebih banyak berbicara dan mengandalkan emosi dari pada akal sehat. Mereka akan semakin lepas kendali jika tidak dibujuk dengan nasihat dan sekaligus solusi jitu pada diri mereka. Ingat, maraknya kegiatan yang penuh gebyar seperti itu apalagi dari sumber informasi menyesatkan serta sempit pikir tentang keberadaan hari kasih sayang yang dianggap sebagai representasi kehidupan dunia remaja. Bisa dipastikan lepas kendali bila tidak diberi jalan keluar yang baik dan bijak.

Disinilah peran optimal Guru sebagai orang tua kedua dipertaruhkan, terutama sebagai perisai sekaligus penangkal hal negatif diperingatan valentine. Nasihat yang membangun menjadi senjata ampuh untuk bisa melemahkan pengaruh negatif dari momen valentine tersebut. Dengan pendekatan edukasi dan tauladan serta cara mensikapi dengan santun, peran media yang tidak bertanggung jawab dan akan merusak makna sebenarnya dari peringatan hari kasih sayang tersebut.

Mengingatkan sekaligus memberi jalan keluar, memang bukan pekerjaan mudah karena sesungguhnya kita berhadapan dengan arus modernisme yang telah mengglobal dan terlanjur salah kaprah. Ditambah dengan opini publik menyesatkan yang tidak ketinggalan zaman dan tidak gaul bila tidak merayakan valentine.Namun dengan cara yang baik dan informasi yang akurat, tidak menutup kemungkinan informasi tersebut akan menjadi nasehat yang akan mudah untuk diikuti dan diterima.

Mengungkapkan rasa kasih sayang sesuatu yang dianjurkan dan baik, tetapi bukan hanya sehari untuk setahun untuk mengungkapkan perasaan cinta kasih. Islam diturunkan ke bumi salah satunya untuk mengajarkan umatnya untuk berkasih sayang dan menjalinkan persaudaraan yang abadi di bawah naungan Allah Yang Maha Pengasih dan Penyayang.

Sekolah sebagai institusi pendidikan memiliki tanggung jawab besar dalam meluruskan pandangan generasi muda tentang valentine. Sekolah melalui arahan guru harus bisa menjelaskan tentang sejarah valentine dan pemaknaan kasih sayang dalam diri siswa.

Dari sinilah guru bisa masuk untuk memberikan pemahaman pada siswa, bahwa kasih sayang bukan hanya dilakukan kepada lawan jenis saja. Proses pemberian kasih sayang haruslah berlangsung sepanjang waktu dan bukan hanya
terjadi sehari saja pada tanggal 14 Februari tersebut.

Kasih sayang dalam pemikiran siswa bisa diwujudkan dalam bentuk nyata seperti silaturahmi, menjenguk teman yang sakit, meringankan beban sejawat yang sedang ditimpa musibah, mendamaikan teman yang berselisih, mengajak kepada kebenaran (amar ma’ruf) dan mencegah dari perbuatan munkar. Dengan demikian kasih sayang terasa lebih indah, lebih konkrit dan lebih universal dari sekadar kasih sayang versi “Valentine Day”.

Namun demikian, tidak benar pula bila kemudian kita membenci dan memusuhi orang yang merayakan Valentine. Mereka tetap saudara kita sebangsa dan setanah air. Kehidupan harmonis yang saling menghormati harus tetap dijaga. Tidak ada salahnya kita tersenyum dan bertegur sapa kepada mereka, sepanjang dalam batas kewajaran saja. Akan lebih baik dan bijak kalau kita mampu memberikan informasi yang sebenarnya perihal Valentine Day. Karena masih banyak remaja yang didominasi siswa SMP/SMA kita yang suka ikut-ikutan, tanpa mengetahui arti di balik perbuatan yang mereka kerjakan. Dan tugas kita bersama barangkali memberikan informasi yang seimbang kepada mereka agar mereka bisa memutuskan mana yang logis dan mana yang tidak rasional.

Siswa kita adalah generasi yang nantinya menjadi harapan dari keluarga, masyarakat dan bangsa. Siswa yang baik menjadi sumber rasa ketenteraman bagi pendidik. Selain itu, siswa merupakan raja bagi masa depannya (chlidren is the king of the future). Artinya, anak-anak adalah ahli waris sah yang akan menggunakan sumber-sumber alam secara bijak di masa depan. Dalam membina dan mewujudkan impian anak-anak agar menjadi bijak, dewasa, matang dan memiliki sikap positif terhadap kehidupan, anak-anak membutuhkan pendampingan dari guru yang juga memiliki sifat-sifat terpuji pula. Ingat, siswa tidak hanya membutuhkan guru yang cerdas, tetapi juga memerlukan guru yang terpuji, santun, dan penuh rasa kasih sayang.


Mendidik siswa dengan
penuh kasih sayang adalah panggilan hati yang sudah (seharusnya) terkristal dalam seorang pendidik. Sifat ini sangat diperlukan dalam upaya mendidik siswa dan menjalankan peran di dalam kehidupan keluarga atau masyarakat. Kasih sayang dari seorang (ibu/bapak) guru adalah nutrisi batin yang sangat diperlukan anak-anak. Seorang guru yang baik, meskipun raga, fisik dan jiwanya sangat lelah dengan beragam masalah kehidupan, tetap senantiasa memperhatikan dan berjuang untuk menyayangi siswanya secara adil dan bijaksana.


Seharusnya ia tidak mempedulikan rasa letih. Hal ini dilakukan demi terwujudnya cita-cita bersama. Semata-mata bukan karena untuk mengejar kebahagiaan dunia saja, namun hal ini dilakukannya demi meraih ridlo Allah SWT. Bagaimanapun, mendidik siswa membutuhkan keikhlasan, ketulusan dan kesabaran yang besar dari sosok pendidik.


Guru yang baik adalah guru yang memiliki sifat-sifat terpuji, yakni kesabaran, perhatian, kelemahlembutan, kasih sayang, kecintaan, amanah, tanggung jawab serta kemampuan dalam mengatasi beban diri sendiri dan orang lain. Perasaan kasih sayang yang dimiliki sang guru merupakan sebuah ikhtiar “batin” dalam mendidik siswa dengan optimal, tulus dan sangat pengertian.


Akhirnya, dalam proses menanamkan nilai-nilai yang luhur dalam mendidik siswa, cara terpenting adalah mengajarkan siswa untuk membagi cintanya kepada manusia, melatih siswa
untuk hidup mandiri, mendorong siswa untuk selalu mewujudkan rasa syukur dengan segala kondisinya, dan berjuang menggali potensi diri siswa.

Ini adalah sebuah peran yang mulia dan bermakna. Meskipun terlihat sederhana, hal ini kadang tidak terasa ringan. Tetapi, sifat-sifat terpuji seorang guru mengubah segala hal yang sulit menjadi mudah, mengubah segala yang melelahkan menjadi rasa bahagia penuh berkah.

Si Pembelajar - Slamet Yuliono -

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Komentar

cara terpenting adalah mengajarkan siswa untuk membagi cintanya kepada manusia, melatih siswa untuk hidup mandiri, mendorong siswa untuk selalu mewujudkan rasa syukur dengan segala kondisinya, dan berjuang menggali potensi diri siswa. ini yang harus kita tanamkan pada siswa-siswa kita

14 Feb
Balas

Benar Bunda, pemikiran yang bijak....

14 Feb

Bergabung bersama komunitas Guru Menulis terbesar di Indonesia!

Menulis artikel, berkomentar, follow user hingga menerbitkan buku

Mendaftar Masuk     Lain Kali