Slamet Yuliono

SLAMET YULIONO, Si Pembelajar yang ingin dan ingin terus belajar kepada siapa saja. Dan berharap dengan bimbingan dan petunjuk-Nya, bisa bermanfaat bag...

Selengkapnya
Berburu Ikhlas di Ramadan Berkah
https://ufitahir.wordpress.com/2010/07/15/

Berburu Ikhlas di Ramadan Berkah

Episode Artikel Khusus Ramadan (6)

Senin sore (21/05/2018), penulis sempat bersitegang dengan "mama" (panggilan untuk istri tercinta) masalah yang sebenarnya sederhana (menurut saya hehehe). Hanya faktor makanan yang akan diberikan untuk berbuka puasa kakak yang sedang menjaga "Emak" di RS. Sakit hati mama (semoga ini hanya istri saya saja) karena menu makanan yang sudah disiapkan dan diberikan untuk berbuka di-share- grup keluarga.

Hebohlah mama, dan sasaran kemarahan ternyata kepada penulis (suami). Menyadari ini ada yang salah saya coba mengingatkan: " .... sudahlah ikhlas - lah dan terima dengan lapang dada .....!". Mendapat jawaban seperti iu, kemarahan tidak mereda malah menjadi-jadi. Dan sore itu perang kecil-kecilan terjadi, dan pastinya sayalah pemenangnya, karena di akhir cerita si mama menangis dan terpaksa harus meredakan emosi meluap tersebut dengan "embel-embel".

Buntutnya, jelang berbuka puasa dengan memenuhi permintaan bersyarat, embel-embel telah didapat, pada saat seperti inilah ilmu "rayuan maut" untuk kembali menyadarkan rasa marah yang menggebu siang menjelang sore tadi.

".... Ma kamu sadar tidak bahwa rasa marah yang menggebu itu bisa mengurangi nilai spiritual ibadah puasa yang telah kau jalani... ". "... Tapi itu semua juga gara-gara ... ". " ... Sudah jangan diterus-teruskan, anggap ini ujian untuk orang yang sedang berpuasa. Ingat salah satu syarat diterimanya puasa itu adalah ikhlas dan ridho karena Allah tanpa disertai alasan .... ".

====

Kejadian dan pengalaman yang terjadi pada kisah (peristiwa) di atas, adalah bagian romantika kehidupan berkeluarga. Semua orang yang sudah menjalani kehidupan berumah tangga pasti akan mengalaminya dengan beragam versi. Masalahnya, mampu dan bisakah kejadian itu diminimalisir dengan mengambil hikmah dari beragam kejadian dan peristiwa itu dalam mengendalikan kehidupan untuk lebih baik.

Momen ramadan berkah ini setidaknya bisa dijadikan pijakan untuk membelajarkan kita. Saat ramadan, banyak sifat manusia yang bisa diasah. Salah satunya melatih sifat keikhlasan dalam berbuat, yang dilaksanakan seseorang bukan karena tanggung jawab individu atau pribadi kepada orang lain, atasan, pimpinan, atau jabatan. Melainkan hanya karena Allah SWT semata.

Bisa saja orang berbohong di kala berpuasa, seperti dia berpuasa di rumah, namun saat di luar rumah dia makan dan kembali berpuasa saat pulang. Namun, ketika ramadan seseorang akan lebih terasah rasa ikhlasnya, kesadarannya bahwa puasa mereka lakukan hanya untuk Allah SWT semata. Sesunguhnya, setiap manusia rusak kecuali mereka yang punya ilmu. Adapun orang yang memiliki ilmu juga akan rusak bila mereka tidak mengamalkan ilmunya.

Selanjutnya, orang yang mengamalkan ilmunya pun akan rusak dan hanya menjadi buih dan kertas bertulis kecuali dia ikhlas dalam melakukannya. Bahkan orang yang ikhlas pun terkadang juga akan terganggu karena rasa ingin mendapat imbalan dan sanjungan.

Ikhlas menurut Didin Hafidhuddin (
Guru Besar Institut Pertanian Bogor (IPB), Wakil Ketua Dewan Pertimbangan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat) ada dua jenis, mukhlis dan mukhlas. Mukhlis merupakan orang yang sadar bahwa dia berbuat baik dan ikhlas. Ikhlas pada mukhlis ini kadang kala masih bisa bocor. Sementara mukhlas adalah orang yang berbuat segalanya hanya karena dan kepada Allah SWT. Illa ibadallah mukhlisin dan Illa ibadallah mukhlasin". Kedua jenis ikhlas tersebut bagus. Namun mukhlas adalah yang terbaik dan ini perlu dilatih. Sebab mukhlis masih merupakan proses untuk menjadi seorang mukhlas.

Apa yang bisa kita latih dengan ibadah berpuasa? Pertama kemukhlasan. Kalau sudah ikhlas, yang mukhlas hidup seseorang tidak akan terasa susah. Dalam menjalankan hidupnya, dia akan berbuat dan berusaha dengan sungguh-sungguh dan tawakal menyerahkan hasilnya apapun kepada Allah SWT.

Kedua, puasa melatih individu untuk hidup dalam suasana ke-Islaman. Pada bulan ramadan, tampak tidak ada pemisahan dalam Islam. Di luar bulan ramadan, diartikan sebagai ibadah hanya ketika seseorang salat ke masjid. Padahal dalam Islam semua kegiatan di luar salat seperti bekerja, beraktivitas, dan berbuat baikpun menjadi ibadah.

Kegiatan (baik) di luar salat juga merupakan bagian dalam ibadah. Oleh karenanya bila individu melakukannya dengan sungguh-sungguh juga mengundang keberkahan oleh Allah SWT, terlebih bila mereka berhenti sejenak dari aktivitasnya saat Allah memanggil untuk salat.

Ketiga, berpuasa memberi keberkahan, di mana antar individu berlomba-lomba saling berbagi keberkahan. "Semangat berbagi menjadi sangat luar biasa tinggal kita mengaturnya, untuk amal, sedekah, infaq dan juga zakat."

Terakhir, puasa meningkatkan semangat berjamaah. Berpuasa di bulan ramadan, individu menjadi semangat untuk berbuka sahur, beribadah tarawih bersama-sama. Semangat berjamaah ibadah ini juga terlihat dalam konsep ekonomi berjamaah dan muamalat yang akhir-akhir ini banyak digaungkan.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjalani bulan ramadan dalam perjalanan sirah nabawiyah dituliskan hanya sekitar 9 kali. 9 kali menghadapi ramadan ini, Rasulullah menggunakannya dengan semaksimal mungkin. Bagaimana dengan kita yang telah melalui Ramadan 10, 20,30 atau bahkan sebanyak 40 kali? Adakah satu Ramadan saja yang kita lalui hanya untuk ibadah kepada Allah?

Jika nilai ke-'ikhlasan' ini tidak ada, maka sudah dipastikan ibadahnya tidak akan diterima Allah. Jika semua ibadah di bulan ramadan ini tidak didasari dengan rasa ikhlas hanya untuk Allah dan semua aktivitas ibadah ini akan berhenti seusai ramadan, maka berkah ramadan sebagai bulan latihan dan ladang pahala tidak akan didapatkan serta sia-sia begitu saja. Dan telah jelas difirmankan Allah bahwa hidup, mati dan ibadah kita hanya untuk-Nya. Semoga !

- Si Pembelajar - kini Guru SMP Negeri 1 Turen Kab. Malang

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Komentar

Memang itulah gangguan sebenarnya, di waktu kita berpuasa

22 May
Balas

Melatih kesabaran yang sesungguhnya. Terima kasih Pak AS diingatkan

23 May

Aamiin... Semoga kita dapat belajar ikhlas

22 May
Balas

Ya Bunda, ikhlas yang berproses ...

22 May

hehehe...sabar ya pak guru...,emak-emak suka begitu, tapi hatinya paling baik seduniaaa. Sabar itu ilmu tingkat tinggi, butuh latihan setiap hari karena ujiannya sering tiba-tiba. Jazakallah sudah sangat mengingatkan. Salam sehat dan sukses selalu. Semoga mencapai mardhatillah. Barakallah.

22 May
Balas

Ketinggalan ni...pak guru, dengan bersabar Insya Allah menjadi ikhlas. Aamiin ya robbal alaamiin.

22 May

Aamiin ,,,,

26 May

Semoga bisa ikhlas menjalankan ibadah karena Allah... mencari ridho Allah SWT.... Aamiiinnn. Mantaaabb Pak.

22 May
Balas

Belajar dari kejadian sehari-hari ....

22 May

Bergabung bersama komunitas Guru Menulis terbesar di Indonesia!

Menulis artikel, berkomentar, follow user hingga menerbitkan buku

Mendaftar Masuk     Lain Kali