Slamet Yuliono

SLAMET YULIONO, Si Pembelajar yang ingin dan ingin terus belajar kepada siapa saja. Dan berharap dengan bimbingan dan petunjuk-Nya, bisa bermanfaat bag...

Selengkapnya
Guru Sebagai Tertuduh
https://sujarman81.wordpress.com/2011/08/26/

Guru Sebagai Tertuduh

KITA sering disuguhi berita di media, baik media lokal maupun nasional terkait beberapa dugaan kekerasan yang dilakukan oleh “oknum” guru terhadap siswa di sekolah. Bahkan ada media yang menggabarkan bahwa seorang siswa dipukul, ditampar atau ditendang guru, yang lebih ekstrim siswa dipukul pakai palu.

Membaca berita semacam ini tentu akan melahirkan perasaan miris. Bahkan tidak sedikit kalangan yang “panik”, khususnya dari orang tua siswa, yang dengan menggebu-gebu melempar kritikan pedas kepada guru. Dalam kondisi terjepit, guru yang diduga melakukan kekerasan tersebut berada pada posisi “terhukum”, “tercaci” dan “terpojok”.

Aksi membully semacam itu tidak hanya dilakukan oleh orang tua siswa dan masyarakat luas, tetapi terkadang juga melibatkan Dinas Pendidikan tempat para guru bernaung, di mana mereka juga ikut “mengecam”. Hampir tidak ada seorang pun yang menaruh simpati kepada guru ketika mereka berada dalam posisi sulit seperti ini.

Demikian pula, ketika guru harus berhadapan dengan hukum, akibat dugaan kekerasan ternyata juga sepi dari advokasi. Padahal organisasi “pembela guru” jumlahnya tidak sedikit, tetapi semuanya diam membisu. Jika pun ada yang bersuara hanya bisa dihitung dengan jari. Buktinya banyak guru yang akhirnya masuk penjara.

Sebagian diantara mereka berargumen, bahwa guru semacam itu patut dihukum karena telah melakukan kekerasan. Atau mungkin sebagian kita bergumam bahwa guru itu adalah penjahat, sehingga haram hukumnya untuk dibela. Kadang-kadang, sebagai upaya melepas diri, Dinas Pendidikan dan organisasi guru akan berkata: “Kami sudah ingatkan semua guru untuk tidak melakukan kekerasan”, satu kalimat yang sangat-sangat “normatif.”

Merusak peradaban


Pada prinsipnya kita semua sepakat menolak dengan tegas segala bentuk kekerasan terhadap anak didik. Kekerasan dalam bentuk apa pun harus dihentikan. Kita sepakat tidak ingin dunia pendidikan melahirkan anak didik yang brutal, bengis dan beringas. Pola pendidikan “otoriter” dan suasana belajar yang tidak “demokratis” tentunya akan melahirkan generasi yang tidak toleran. Dalam konteks yang lebih luas, kekerasan akan merusak peradaban. Karena faktor itulah agama apapun juga melarang kekerasan.

Saat ini, dengan keberadaan Undang-Undang Perlindungan Anak maka larangan mempraktikkan kekerasan dalam dunia pendidikan sudah semakin tegas. Sebagai bangsa beradab, tentunya kita mendukung penuh penerapan Undang-Undang ini. Pertanyaan selanjutnya adalah bagaimana kita menerjemahkan kekerasan itu?

Di satu sisi, kelahiran UU Perlindungan Anak beberapa tahun lalu merupakan sebuah kemajuan dalam dunia pendidikan, di mana setiap kita dituntut untuk menjaga hak-hak anak. Lebih tegasnya UU tersebut menyelip pesan agar kita semua mampu “memanusiakan” anak. Namun di sisi lain, UU Perlindungan Anak justru menempatkan guru dalam posisi yang dilematis. Guru dihadapkan pada posisi sulit, serba salah dan salah tingkah.

Bisa jadi apa yang saya sampaikan ini bersifat kasuistik dan tidak bisa digeneralisasi. Lihat saja ketika media menyajikan kisah-kisah “kekerasan” yang diduga dilakukan oleh oknum guru, kecaman pun mengalir deras hanya bermodalkan “sepotong” kisah di surat kabar. Sangat jarang pihak yang bersikap arif untuk melihat persoalan secara komprehensif, sebagian kita cenderung melakukan punishment dengan pengamatan parsial. Setiap membaca berita seorang guru melakukan “kekerasan,” mata kita hanya tertuju pada hasil (kekerasan) dengan guru sebagai “tersangka” utama, tetapi kita cenderung mengabaikan proses (kenapa itu terjadi).

Sebenarnya kita semua harus memahami bahwa guru bukanlah psikolog walaupun mereka sudah dibekali ilmu psikologi pendidikan. Artinya, guru juga manusia yang bisa saja terpancing amarahnya ketika menghadapi siswa yang mengidap bandel ekstrem. Kekerasan yang dilakukan oleh guru terhadap siswa tersebut umumnya bersifat insidentil (spontanitas), bukan kekerasan yang direncanakan.

Saya yakin bahwa tidak ada seorang pun guru yang ketika berangkat dari rumah bertujuan untuk memukul siswa. Sebaliknya, tujuan mereka adalah untuk mendidik siswa menjadi manusia yang cerdas dan berakhlak. Jika pun ada siswa yang dipukul, dicubit dan sebagainya, maka itu bukanlah kekerasan (selama dalam batas kewajaran), tapi salah satu bentuk punishment agar siswa jera dan tidak lagi mengulang kesalahannya.

Pukulan yang mendidik dalam batas-batas yang wajar bukanlah kekerasan, dan bahkan agama pun mengizinkannya. Namun demikian, pukulan bukanlah satu-satunya bentuk hukuman dan lebih baik dihindari, tetapi dalam kondisi tertentu pukulan dalam batas yang wajar ini tetap dibutuhkan, sebagai pengingat.

Perilaku anak


Berdasarkan kajian sederhana yang penulis lakukan, berkesimpulan bahwa pemberlakuan UU Perlindungan Anak, jika ditafsirkan keliru justru akan menjadikan guru bersikap abai terhadap perilaku anak. Sebuah kasus yang mungkin relevan untuk diangkat adalah aksi tawuran antar siswa, dimana banyak guru yang berusaha mencari titik aman.

Pernah suatu ketika terjadi perkelahian antar siswa, ketika guru mencoba untuk melerai -yang dalam prosesnya guru juga terpaksa bersikap keras (seperti mencubit atau menjewer telinga, kadang-kadang menampar), oleh sebagian pihak, khususnya orang tua - justru menyalahkan guru karena dianggap ikut melakukan kekerasan. Padahal semua orang paham bahwa dalam kasus-kasus semacam ini, sangat tidak mungkin bagi guru untuk melerai perkelahian dengan hanya berteriak-teriak pakai alat pengeras suara.

Di beberapa sekolah terdapat siswa yang memang memiliki sikap bandel ekstrem, dimana segala pendekatan tidak akan mempan untuk membuat siswa tersebut berubah. Contohnya ada sekolah ketika seorang guru yang sedang mengajar, ada beberapa siswa yang mengangkat kaki ke meja, kaki tersebut tertuju ke arah guru. Berbagai pendekatan telah digunakan untuk mengingatkan siswa tersebut, tetapi tidak ada perubahan sama sekali. Dan karena kesal dipukullah kaki siswa tersebut pakai penggaris. Mendapat pukulan, siswa langsung berontak dan melapor kepada orang tua. Keesokan harinya orang tua siswa tersebut justru mengamuk di sekolah.

Belajar dari pengalaman dan ketakutan terjerat hukum, guru membiarkan siswa melakukan apa saja tanpa upaya pencegahan. Demikian pula dengan perilaku sebagian siswa yang kurang adab akan dibiarkan saja. Ketika terjadi tawuran guru juga akan “santai” saja, karena pencegahan akan diartikan sebagai kekerasan, dan kekerasan akan berujung pada penjara. Dan jika kondisi ini benar-benar terjadi, guru pula yang akan “dicaci” karena dianggap tidak becus mendidik siswa menjadi manusia yang berakhlak. Inilah yang saya sebut dilematis.

Si Pembelajar - Slamet Yuliono -

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Komentar

Saya mengamini saja apa yang disampaikan Bu Raihana,' kenyataannya memang dilimatis

08 Feb
Balas

Ya Bunda ....

08 Feb

Dilematis! Benar sekali Pak. Saya pun pernah bilang ke anak-anak, "Orang di luaran sana bahkan orng tua kalian tidak tahu bagaimana keadaan kalian didalam kelas. Yang mereka tahu kalian itu baik2 saja. Mereka tidak tahu kalau ada diantara kalian itu yang tidak bisa "menerima nasehat gurunya" meski berkali-kali disampaikan". Tapi...ya ..itu tadi la Pak ...,karena kita juga manusia biasa yang bisa sedih , ketawa, marah, gembira, hilang kesabaran....,dsb...kita juga terkadang khilaf. Dan kekhilafan itu yang tidak bisa diterima oleh masyarakat kita. Guru itu harus suci, bersih, sabar, nerima apa adanya malah kadang gak boleh "kaya". Terimakasih Pak...sudah sangat menginspiratif. Ma'af ya Pak...panjang banget komentnya....soalnya lagi baper ya kan Pak. Sedang sensi....hehehe. Baarokallah...Pak. Semoga semua guru senantiasa dalam Ridho Allah SWT...Aamiin Yaa Robbal 'alaamiin.

08 Feb
Balas

Ternyata tulisan ini tidak penulis alami saja. Termasuk Bunda, itulah nikmatnya berbagi ....

08 Feb

Nikmatnya menulis juga ya...Pak. Baarokallah....

08 Feb

Bergabung bersama komunitas Guru Menulis terbesar di Indonesia!

Menulis artikel, berkomentar, follow user hingga menerbitkan buku

Mendaftar Masuk     Lain Kali