Slamet Yuliono

SLAMET YULIONO, Si Pembelajar yang ingin dan ingin terus belajar kepada siapa saja. Dan berharap dengan bimbingan dan petunjuk-Nya, bisa bermanfaat bag...

Selengkapnya
Lirik dan Gerak Binal Pertunjukan Dangdut
https://arissetyawanrock.wordpress.com/category/tak-berkategori/

Lirik dan Gerak Binal Pertunjukan Dangdut

Episode : Mawas Diri (3)

--------------------------------

PERNAHKAH kita coba merenung dan menyimak, apa yang kita dengar dari ingar bingar alunan nada pengiring dipertunjukan musik dangdut. Yang pasti mata dan telinga kita dibuat heboh dengan iringan ingar bingar musik yang isi syairnya banyak mengisahkan tentang istri simpanan, perselingkuhan, aksi kekerasan bahkan cacian dan umpatan. Konkritnya coba kita simak lirik-lirik berikut:

1. Ku cinta kamu, ku sayang kamu
Apa maumu bilang padaku
Aku kabulkan permintaanmu
Yang penting kamu jadi pacarku
Minta cium boleh, minta peluk boleh
Apa aja boleh, semuanya boleh
Minta ini boleh, minta itu boleh
Apa aja boleh, semuanya boleh

2. Ku hamil duluan sudah tiga bulan
Gara-gara pacaran tidurnya berduaan
Ku hamil duluan sudah tiga bulan
Gara-gara pacaran suka gelap-gelapan

3. Apakah aku telah melanggar hukum
Bila mencintai suami orang lain
Adakah undang-undang yang melarangnya
Katakanlah aku melanggar pasal berapa

4. Rupanya kau sang mucikari, seorang yang tak punya hati
Sering engkau paksa diriku untuk melayani temanmu
Bila ku menolak siksaan yang ku terima

Penggalan lagu yang dipopulerkan beberapa penyanyi debutan ini, dari kata-kata yang dipilih sebagai sebuah lirik, sangat “maaf binal” karena menggambarkan perilaku seks bebas dan tidak peduli dengan apa yang berlaku di masyarakat. Entah apa maksud pencipta lagu ini, yang pasti lirik yang secara eksplisit sangat melecehkan derajat kaum wanita (ini) perlu evaluasi karena bertentangan norma, agama, dan budaya bangsa kita.

Padahal dilihat dari sejarahnya, musik dangdut yang pada awalnya sebagai media hiburan berirama rancak untuk masyarakat. Kini dangdut “tidak mempunyai arti, arah, dan tujuan”. Ini terjadi karena ulah “oknum” dari penulis lirik lagu/arasemen (musik) dangdut dan dilantunkan dengan gerak seronok. Sedang sebagai akar budaya yang menjunjung norma di “dinomorduakan”.

Penyanyi musik dangdut masa kini hanya mementingkan komersialisasi, kepopuleran dan sensasional. Sensasional bukan dengan karya yang baik tetapi dengan goyangan yang cenderung mengundang birahi. Mudahnya saat ini mencari kepopuleran dimanfaatkan oleh penyanyi dangdut untuk mendongkrak nama besar mereka. Salah satu cara dengan membuat penamaan goyang yang “aneh dan fantastis” sehingga menimbulkan mindset (cara pandang) seksualitas dan kebinalan bagi penonton dan penikmat dangdut itu sendiri.

Binal dipersepsikan sebagai sesuatu yang liar, nakal, serta tidak terkendali. Binalitas identik juga dengan seksualitas. Dalam artikel ini, penulis mengkhusyukkan permasalahan terhadap goyangan pada pertunjukan dangdut masa kini yang identik dengan goyangan dan anti feminim. Ini dibuktikan dengan ramainya penyanyi-penyanyi dangdut mengistilahkan diri disesuaikan dengan bentuk goyangan. Misalnya goyang dumang (dipulerkan oleh Cita Citata), goyang patah patah (dipulerkan oleh Anisa Bahar), goyang itik (dipulerkan oleh Zaskia Gotik), goyang uget uget (dipulerkan oleh DJ Ay Claudia), goyang pinguin (dipulerkan oleh Duo Walangsangit), goyang bebek (dipulerkan oleh De Mocca), goyang ngecor (dipulerkan oleh Uut Permatasari), goyang gergaji (dipulerkan oleh Dewi Persik), goyang cumi (dipulerkan oleh Manda Cello), goyang manjur (dipulerkan oleh Siti Badriah), goyang ngebor (dipulerkan oleh Inul Daratista), dan beragam bentuk goyang lainnya.

Tidak jelas apa maksud dari sang penyanyi atau produser menamakan goyangan mereka dengan penamaan yang “aneh”. Tetapi dilihat dari dampaknya sangat dahsyat, mulai dari anak anak hingga orang tua sudah “teracuni” dengan konsep pertunjukan yang tidak biasa ini. Meskipun kita mengenal dangdut goyang pantura (goyang pantai utara jawa) yang familiar dan sensasional.

Ciri ciri penyanyi dangdut yang dikategorikan mempunyai goyangan binal dan sensasional dengan menggunakan celana ekstra ketat (terutama di daerah pinggul kebawah), make up yang ekstra tebal, rambut yang di corak warna warni, penamaan grup yang cenderung “abnormal” (seperti duo racun, duo serigala, dua singa, trio macan, dan istilah lainnya), ditambah dengan perhiasan yang megah menggunakan blink-blink , serta menyampaikan pengantar yang cenderung provokatif.

Timbulnya sosok kontroversial dikalangan penyanyi dangdut saat ini membuat para sesepuh dangdut merasa “gerah”. Oleh sebab itu, wajar saja jika diantaranya pemerhati musik menilai kita berada di zaman jahiliah jilid kedua. Pertanyaannya: Akankah hal ini terjadi jaman modern ini, jawabannya sangat bisa tetapi dengan konsep yang lebih “gila”.

Terakhir, penulis berkesimpulan bahwa hilangnya nilai estetis dari pertunjukan dangdut disebabkan oleh gaya hidup penyanyi, sensional penyanyi, goyangan penyanyi dan komersialisasi. Irama dangdut yang seharusnya menjadi khasanah budaya bangsa sekaligus sebagai hiburan masyarakat yang berkualitas menjadi bahan ejekan dan tertawaan bangsa lain karena memuat ruang binalitas. Kalau tradisi ini tidak dihilangkan, mau diletakkan dimana wajah bangsa ini ke depan!

-----------------------

Turen - Kab. Malang, 7 Juli 2018

Si Pembelajar - Slamet Yuliono -

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Komentar

Kita memang sedang berada di zaman jahiliyyah , pak guru. Jahiliyyah yang berarti bodoh. Tidak bisa lagi membedakan mana yang baik dan yang buruk. Saya teringat ketika Inul, Dewi Persik dengan goyangannya dicekal, eee...malah mereka mengatasnamakan seni dan hak asasi untuk berkarya seni beramai-ramai demo menolak. Ketika zaman SMA dulu, lagu yang "cengeng" sajapun tidak diizinkan, namun sekarang di zaman "kebebasan" ini semua lagu dengan lirik yang seronok malah dengan mudah dapat kita dengar. Belum lagi goyangannya yang dapat ditonton anak-anak didalam rumah-rumah pada pesawat tv. Semoga kita para guru mampu membentangi anak-anak untuk hal ini. Tugas kita ini, pak guru. Salam sehat dan sukses selalu. Barakallah.

09 Jul
Balas

Salah kaprah ya Bunda, sehat selalu dan berhikmah dalam mengingatkan. Terima kasih atensinya.

10 Jul

Bergabung bersama komunitas Guru Menulis terbesar di Indonesia!

Menulis artikel, berkomentar, follow user hingga menerbitkan buku

Mendaftar Masuk     Lain Kali