Slamet Yuliono

SLAMET YULIONO, Si Pembelajar yang ingin dan ingin terus belajar kepada siapa saja. Dan berharap dengan bimbingan dan petunjuk-Nya, bisa bermanfaat bag...

Selengkapnya
Masa Kecil-ku di Ramadan Berkah
https://www.wowkeren.com/berita/tampil/00163511.html

Masa Kecil-ku di Ramadan Berkah

Episode Artikel Khusus Ramadan (14)

Saya tidak terlalu ingat benar kapan mulai berlatih puasa pada masa kecil di sebuah desa yang lumayan jauh dari keramaian kota, ya sekitar 26 kilometer dari pusat kota. Mungkin saat itu, masih berusia antara lima atau enam tahun saya sudah belajar melaksanakan rukun Islam ketiga yang terasa sangat berat.

Kejadian sangat lama yang bila datang bulan ramadan semacam ini, selalu menjadi sesuatu yang istimewa dan menggugah ingatan penulis. Akan pengalaman pertama ketika bersama-sama beberapa orang teman diam-diam membatalkan puasa pada waktu Ashar dengan pergi pancuran dekat rumah (sekitar 500 meter) untuk mandi bersama dan "mencicipi" air sumber mentah yang sangat segar. Yang jelas, hasil bermain dan mandi disana tanpa memberitahukan kepada pihak keluarga di rumah.

Saat itu, saya tidak tahu dan tidak paham betul apakah perilaku salah semacam ini sudah dapat dikategorikan sebagai sebuah kebohongan. Mengingat seusia itu pastinya belum paham benar makna pelanggaran yang dilarang agama. Juga masih segar dalam ingatan bahwa puasa pada usia anak-anak itu amatlah berat, apalagi kebiasaan di kampung saya pelaksanaan makan sahur diberikan terlalu awal, antara pukul 02.00- 03.00 menjelang dini hari. Dengan demikian, ketika minum air dari pancuran di sumber tersebut sekitar pukul 16.00, berarti kami telah "dipaksa" berpuasa selama lebih kurang 12 jam.

Bagi anak berusia lima-enam tahun, puasa panjang ini benar-benar dirasakan sebagai siksaan, pengaruh niatpun belum bisa menolong keadaan. Di usia itu anak itu, niat puasa karena Allah SWT pastinya belum dipahami dan dihayati secara maknawi. Meskipun pengungkapan dan ucapan yang dibacakan beramai-ramai bahkan diperdengarkan lewat loud speaker. Doa yang berbunyi: " ... Nawaitu shauma ghodin 'an adaa'i fardhi syahri romadhoona haadzihis-sanati lillahi ta'aalaa ... ". Artinya: "... Saya niat berpuasa esok hari untuk menunaikan fardhu di bulan ramadhan tahun ini, karena Allah Ta'ala ....", yang di hampir setiap musholla diucap menjelang shalat tarawih sebagai pembuka (doa pujian) selalu kami ucapkan ber ulang-ulang.

Usai shalat tarawih dan witir kami pulang ke rumah sebentar, dilajutkan bawa bekal saur untuk menginap di langgar (musholla). Menginap dan sambil berbagi cerita adalah masa kecil yang tidak mungkin terlupa, kegiatan yang dilanjutkan dengan kadang mengaji, tidur, dan diakhiri makan sahur hasil bekal yang dibawa dari rumah. Sahur yang dilakukan bersama-bersama ini merupakan kebanggaan tersendiri, apalagi jika menu yang dimakan kita bersama berbeda. Porsi dan menu berapa saja pasti habis.

Kegiatan untuk hari ini, diakhiri dengan "patrol" keliling kampung. Dalam satu kelompok itu ada yang bawa "oncor" (obor), bawa kaleng bekas, seruling, gitar, atau dengan membawa peralatan pendukung lainnya. Pemandangan unik yang kini sudah langka namun kurindu.

====

Liku kehidupan masa lalu serba indah dan tidak mungkin kembali. Semua ada masanya, yang terpenting dari segala aktivitas keseharian tersebut dan apapun yang kita lakukan ternyata hingga kini yang tidak berubah adalah masalah niat. Termasuk saat puasa di bulan ramadan ini, perkara niat puasa saat kecil tak perlu ditanya dulu. Itulah proses menuju pada kedewasaan diri. Situasi berubah secara total setelah dewasa, ketika ajaran agama mulai dipahami secara berangsur.

Ternyata pengaruh niat itu amatlah dahsyat. Dalam keadaan berpuasa kita mampu bekerja berjam-jam tanpa menghiraukan rasa lapar dan haus. Tidak ada keinginan, misalnya, menengok gerak jarum jam untuk mengetahui kapan matahari terbenam. Benarlah sebuah hadits mengatakan bahwa innam ala’malu bi al-niyyat (sesungguhnya segala amal perbuatan itu tergantunglah pada niatnya).

Jika niat mantap, kerja apa pun terasa ringan, apalagi tuntutan yang ingin diraih adalah ridha Allah, sebuah posisi spiritual yang nilainya tidak ada tandingannya. Tetapi, memasuki usia senja ini, keraguan saya belum hilang, apakah perjalanan hidup ini sudah berada dalam koridor ridha Allah atau masih saja di persimpangan jalan penuh dosa? Hanya Allah yang Maha tahu, kita hanya berupaya terus tanpa putus asa untuk bergerak ke arah maqam tertinggi itu.

Seperti ungkapan di ujung ayat 183 surah al-Baqarah tentang puasa, “ la’allakum tattaqun” (semoga kamu berhasil mencapai posisi takwa), tingkatan yang masih baru sebuah harapan, bukan kepastian. Manusia bertakwa pastilah dalam keridhaan Allah. Dalam ungkapan lain, sekalipun tahan bekerja (seperti membaca dan menulis) berjam-jam pada siang hari pada bulan ramadan tanpa perlu menengok jarum jam kapan saat maghrib datang, saya juga tidak dapat mengatakan apakah sudah berada di jalan yang diridhai atau belum.

Seperti halnya maut, hidup inipun sarat dengan misteri dan teka-teki. Jangan-jangan nilai puasa saya yang sekarangpun belum juga beranjak untuk naik kelas di bandingkan saat masih kecil di kampung sebelum masuk Sekolah Dasar (SD).

Akhirnya, manusia hanya bisa memohon: " .... Ya Allah, dengan munajad-ku yang hampir setiap hari kupanjatkan, aku memohon agar jeritan jiwa ini didengar karena Engkau Maha Mendengar, Maha Mengetahui. Menjelang akhir hidup ini aku masih saja merasa gamang. Dengar kan, ya Allah, aku tak kan pernah lelah mengetuk pintu ampunan-Mu. Aamiin .....

*) Slamet Yuliono -Si Pembelajar-

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Komentar

Masa kecil itu, akan selalu terpatri dalam ingatan, bahkan bisajadi bahan renungan dan perbandingan dengan keadaan anak zamannow

04 Jun
Balas

Benar masa kecil yang indah

04 Jun

Aamiin YRA... Masa kecil masa yang paling menyenangkan

04 Jun
Balas

Aamiin YRA... Masa kecil masa yang paling menyenangkan

04 Jun
Balas

Aamiin YRA... Masa kecil masa yang paling menyenangkan

04 Jun
Balas

Masa tak terlupakan Bun ....

04 Jun

Bergabung bersama komunitas Guru Menulis terbesar di Indonesia!

Menulis artikel, berkomentar, follow user hingga menerbitkan buku

Mendaftar Masuk     Lain Kali