Slamet Yuliono

SLAMET YULIONO, Si Pembelajar yang ingin dan ingin terus belajar kepada siapa saja. Dan berharap dengan bimbingan dan petunjuk-Nya, bisa bermanfaat bag...

Selengkapnya
Mengenang Sejarah Sebagai - Ibrah -
https://nasional.kompas.com/read/2017/09/07/22045941/cerita-orang-dekat-tentang-kemampuan-gaib-gus-dur

Mengenang Sejarah Sebagai - Ibrah -

Episode: Belajar Sejarah untuk Kehidupan (7)

-------

Dikutip dari merdeka.com, Greg Barton merekam secara jelas tentang kisah jenaka ini, yang dia tuangkan dalam buku Biografi Gus Dur (Sebutan keren dari Abdurrahman Wahid). Dalam tulisannya, Barton menyebut sebenarnya tidak ada informasi yang pasti tentang kapan Gus Dur dilahirkan.

Kepada Barton, Gus Dur hanya mengatakan menurut keterangan dari sang ibu, dia dilahirkan pada hari keempat bulan ke delapan. Maksudnya, Gus Dur lahir pada tanggal 4 bulan Sya'ban tahun 1359 H, yang jika dihitung menurut kalender Masehi jatuh pada tanggal 7 September 1940.

Nukilan pengingat Gus Dur yang tertera di bawah, yaitu ketika dia (Gus Dur) saat mulai belajar di sebuah SD di Jakarta. Ketika itu, sosok Gus Dur mendapat pertanyaan dari gurunya tentang identitasnya.

" Namamu siapa, Nak?" tanya guru.

" Abdurrahman," jawab Gus Dur. Sang guru bertanya lagi tentang tempat tanggal lahirnya.

Gus Dur kecil menjawab, " Jombang..." lalu terdiam sejenak. " Tanggal empat bulan delapan tahun 1940," kata Gus Dur melanjutkan jawaban.

Ternyata, diamnya Gus Dur karena sedang memikirkan berapa tanggal yang sesuai dengan informasi ibunya. Gus Dur hanya ingat tanggal lahirnya di kalender Hijriyah dan tidak tahu pada tanggal berapa dia dilahirkan menurut sistem kalender Masehi.

Padahal, yang dimaksud Gus Dur adalah tanggal 4 bulan Sya'ban. Tetapi, karena sang guru hanya mengerti kalender Masehi, maka tanggal lahir Gus Dur ditulis 4 Agustus 1940.

=====

TULISAN ini tidak memaksa pembaca untuk berpolemik tentang kapan tanggal kelahiran Gus Dur diperingati. Ini terbukti dari cuplikan hasil wawancara di atas, bahwa Gus Dur sendiri tidak pernah memaksakan diri untuk diperingati, meskipun beliau adalah salah satu tokoh besar dan sosok orang nomor satu di Negara Indonesia (Presiden RI yang ke 4, dengan masa jabatan mulai 20 Oktober 1999 – 23 Juli 2001).

Gus Dur selalu berprinsip, kenapa kita hanya ngurusi tanggal lahir yang 'nggak' penting, masih banyak pekerjaan-pekerjaan lain yang lebih penting dan lebih banyak manfaatnya saat kita hidup dan tinggal di dunia. Yaitu mengurusi umat yang semakin lupa akan dirinya sendiri dan tuhannya hehehe .....

Kini beliau telah meninggalkan dunia fana ini, dan sedang menunggu hisab dari-Nya. Termasuk menanti kita-kita yang sedang mengumpulkan bekal sebanyak-banyaknya. Bekal untuk menghadap keharibaan-Nya. Bekal kebaikan atau keburukan.

Pelajaran Yang Dapat Dipetik

Prinsip hidup itu sederhana atau dalam istilah jawa 'sak madyo' (hidup apa adanya), dan jangan mengada-ada dan 'sak dremi nglampahi. Dengan prinsip semacam ini, yang dibutuhkan dalam kehidupan di dunia ini adalah sikap kepasrahan, keuletan dan kesabaran. Sikap demikian itu dibutuhkan landasan kepercayaan penuh kepada Sang Maha Pencipta.

Untuk memenuhi prinsip yang sifatnya 'nggugah' atau membangunkan kita dari kehidupan yang semu ini, setidaknya berbaik dan eloklah untuk mengejar budi pekerti luhur. Terlebih isi dan pengalaman hidup pribadi kita hanya yang baik dan yang akan bermanfaat bagi kehidupan setelah kita dinyatakan 'almarhum'. Dan dari dalam lubuk hati yang paling dalam dengan langkah nurani yang lugu, tulus, polos ini kebaikan perilaku sebagai prinsip hidup akan menjadi pemandu penyadaran diri kita kepada karya, usaha, dan tugas kewajiban hidup sehari-hari demi keluarga disandarkan.

Kejar dan targetlah setiap langkah kerja kita menuju jalan ridhonya. Bila ini belum mampu, terus belajar dan belajarlah semampunya karena kita hidup di dunia ini adalah berproses. Berproses menjadi insan yang menjadi lebih baik atau malah terjerumus pada jurang kenistaan.

Akhirnya, mari kita bersama-sama 'gumregah' dan bangun menuju kehidupan mental spiritual yang lebih baik. Yaitu menjadi manusia yang seimbang dan seutuhnya, bukan hanya baru kelihatan seperti manusia. Tetapi akan menjadi manusia berbudi 'bowoleksono'. Tidak hanya sekedar 'berteori' dan sekedar angan belaka. Namun menuju kenyataan hidup: sak pikir, sak pocapan, sak temindak-ipun.

Inilah sebagian 'kecil' dari menjawab belajar sejarah bersama Gus Dur, sosok yang menurut 'sebagian' bangsa ini merupakan 'wali' Allah yang ke sepuluh di negeri tercinta ini Indonesia. Belajarlah dari nilai kebijakannya, dari kearifannya, dari kesederhanaannya, dari fleksibelnya, dari kesederhanaannya, dari kepemimpinannya, dari kreatifnya, dari kejujurannya, dari segala kebaikan yang telah diwariskan kepada kita. Bukan dari sifat dan perilaku yang salah dan menyimpang yang dimiliki setiap umat, termasuk Gus Dur. Wallahu a'lam bish-shawabi

Disarikan dari berbagai sumber ...

--------------------------------

Turen - Malang, 4 Agustus 2018

Si Pembelajar - Slamet Yuliono -

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Komentar

Betul pak guru. Orang yang baik akan selalu mengingat kebaikan orang lain dan melupakan kebaikan dirinya serta melupakan keburukan orang lain dan selalu mengingat keburukan diri sendiri. Semua menjadi ibrah bagi kita. Jazakumullah khoiron katsiro untuk pembelajaran ini. Salam sehat dan sukses selalu. Barakallah....pak guru.

05 Aug
Balas

Terima kasih Bunda atensinya. Tulisan ini juga membelajarkan saya untuk selalu ingat dengan sejarah masa lalu.

05 Aug

Bergabung bersama komunitas Guru Menulis terbesar di Indonesia!

Menulis artikel, berkomentar, follow user hingga menerbitkan buku

Mendaftar Masuk     Lain Kali