Slamet Yuliono

SLAMET YULIONO, Si Pembelajar yang ingin dan ingin terus belajar kepada siapa saja. Dan berharap dengan bimbingan dan petunjuk-Nya, bisa bermanfaat bag...

Selengkapnya
Mengenang Sejarah Sebagai - Ibrah -
https://www.selasar.com/question/233/Adakah-sisi-positif-dari-seorang-Adolf-Hitler

Mengenang Sejarah Sebagai - Ibrah -

Episode: Belajar Sejarah untuk Kehidupan (5)

DUA Agustus bisa dikatakan sebagai salah satu tanggal kelamnya dunia khususnya di belahan bumi Eropa. Dikatakan salah satu tanggal kelam karena di tanggal ini tepatnya sekitar pukul 09.00 pagi teriring kematian Presiden Hindenburg akhirnya terjadi sesuai dengan yang diperkiraan rakyat Jerman. Beberapa jam kemudian, Reichstag (Parlemen) mengumumkan undang-undang memberikan mandat kepada Hittler untuk menduduki singgasana panas sebagai pemangku jabatan tertinggi di Jerman.

Penulis bukan sosok pengagum Hittler, tetapi untuk kali ini penulis coba buka sisi istimewa dari Hitler di balik kelamnya kepemimpinan beliau. Tidak selayaknya mencerca secara membabi buta kepribadian Hitler tanpa melihat latar belakang dirinya. Seburuk-buruknya seseorang di mata siapa saja, pasti ada sisi baik yang dapat kita ambil hikmahnya.

Seringkali tabiat, perilaku, dan pendirian seseorang adalah hasil dari pengalaman masa lalunya. Semasa kecil Hitler adalah seorang anak yang tertolak, ayahnya sangat membencinya dan menganggap perilakunya yang “antisosial” itu adalah sebuah kutukan karena Alois Hitler (Ayah Hitler) mengawini keponakannya sendiri. Ayahnya sosok yang keras dalam mendidik anak, sedang ibunya (Klara) sangat baik kepadanya.

Klara adalah salah satu dari sedikit orang yang benar-benar disayangi oleh Adolf. Klara sangat percaya bahwa anaknya adalah seorang jenius, dan selalu menganggap anaknya normal, walaupun sejak kecil sudah menunjukkan gejala destruktif dan antisosial.

Umur 18 tahun, Hitler sudah menjadi seorang yatim piatu setelah ibunya meninggal dunia sedangkan ayahnya sudah meninggal terlebih dulu. Masa kecil yang diliputi dengan kebencian dan abusement dari ayahnya ini memberikan andil besar dalam mental dan kejiwaan Hitler saat dewasa.

Ada hal yang harus kita pahami jangan pernah meremehkan “dendam masa kecil”. Lihat contoh dari kisah Mao Tse Tung. Mao kecil pernah bersekolah di sekolah yang didirikan oleh para missionaris dari Eropa, oleh sebab suatu hal Mao dimaki oleh salah satu Pastor dengan makian yang bersifat rasialis “anjing kuning!” dan mulai saat itu Mao tidak pernah kembali ke sekolah itu. Membenci kaum agamawan. Kemudian menjadi pemimpim komunis terbesar di China, juga menjadi pembunuh massal, jutaan kaum terpelajar dan seniman. Sebuah dendam masa kecil dan luka-batin; inilah bahayanya jika itu dialami oleh seorang pemimpin !

=====

Hitler awalnya bercita-cita menjadi seorang seniman (bukan menjadi tentara/ politikus). Sebagai pecinta seni, maka dia mencoba mendaftar ke sebuah fakultas seni di Wina, Austria, tetapi ditolak. Penolakan ini memiliki dampak besar bagi dirinya. Frustasi, yatim-piatu, tidak ada uang, sehingga dia menjadi gelandangan, hidup dari belas kasihan orang lain di jalanan. Selama itu, dia juga mulai benci terhadap orang Yahudi, kaum imigran yang hidup lebih mewah.

Banyak orang berkata, seandainya saja dia diterima di sekolah seni tersebut, mungkin Hitler hanya akan menjadi seniman seperti Picasso misalnya, mungkin sejarah juga akan lain ceritanya. Disinilah salah satu letak pentingnya Hitler, dia mengubah sejarah (meskipun ke jalan yang dianggap salah). Garis hidupnya bagaikan takdir yang tidak bisa diubah.

Di tahun 1914, Jerman ikut serta dalam Perang Dunia 1 dan Hitler masuk militer. Sewaktu perang di garis depan, dia terluka, dipulangkan dan mendapatkan medali untuk keberaniannya. Selama perang, Hitler berangsur-angsur menjadi seorang patriot untuk Jerman meskipun dia sendiri bukan warga negara Jerman (dia lahir di Austria). Maka dari itu, sewaktu Jerman kalah perang, dia tidak bisa menerima kenyataan, karena bagi Hitler, Jerman adalah yang terkuat. Dia lalu menyalahkan para "pengkhianat" sipil, terutama orang Yahudi sebagai penyebab Jerman kalah perang.

Tahun berganti dan pada 1919 Hitler bergabung dengan sebuah partai kecil bernama Partai Pekerja Jerman, dan meninggalkan karir militernya. Saat berhasil menjadi pemimpinnya dan akhirnya mengubah namanya menjadi partai NAZI. Tahun 1920, Hitler menterbitkan simbol Swastika dan tahun 1921 Partai ini semakin solid dengan didukung oleh kelompok milisia SA.

Disinilah kita bisa melihat salah satu kejeniusan sosok Hitler dalam mengelola satu organisasi dan berpidato. Ketika pengikutnya berteriak sambil mengangkat tangan “HAIL HITLER!” benar-benar luar biasa! Apapun yang Hitler katakan adalah seperti sebuah “Religion’s order”yang membuat pengikutnya menjadi sangat fanatik dan mengikuti apapun yang diucapkan.

Kesuksesannya tidak lepas dari peran Ernst Hanfstaengl, seorang kaya yang menjadi supporter sekaligus fund raiser untuk karir politik Hitler. Hanfstaengl terpana pada pandangan pertama kepada Hitler saat mendengar pidatonya, dan meyakini Hitler akan menjadi orang besar. Dia memandang Hitler sebagai berlian yang belum diasah, dan dialah yang membuat Hitler mempunyai penampilan “antik” dengan kumis kecilnya itu.

Tahun 1934 dengan kematian presiden Hindenburg membawa Hitler memiliki kuasa penuh dan menjadi seorang diktator dengan kekuasaan tanpa batas. Bisa dilihat disini, orang yang mampu mengangkat dirinya dari seorang gelandangan yang tidak pernah lulus sekolah, dengan karir militer hanya sampai kopral, kemudian menjadi pemimpin mutlak Jerman bukanlah orang sembarangan!

Setelah mengambil alih kekuasaan di Jerman, Hitler lalu terus menggunakan kemampuan berpidatonya yang luar biasa untuk membakar kembali semangat rakyat Jerman. Dan perlu diketahui, dengan adanya perjanjian Versailles setelah Perang Dunia (PD I) berakhir, Jerman sebagai pihak yang kalah kehilangan banyak wilayahnya dan harus membayar biaya perang dan sebagainya. Hitler yang menganggap perjanjian ini sebagai sampah mampu membuat jutaan rakyat Jerman berdiri di belakangnya untuk menolak isi perjanjian ini dan merebut kembali apa yang menjadi 'hak milik' rakyat Jerman. Apa yang terjadi selanjutnya bisa dibaca di berbagai buku sejarah, tetapi yang ingin ditekankan disini adalah kehebatan taktik berperang Hitler. Polandia, Denmark, Norwegia, Belanda, Belgia, Luxembourg, Perancis, Yugoslavia, Yunani dan Mesir semua jatuh dibawah kekuasaannya dalam waktu cepat.

Selama masa kekuasaan Hitler (1933-1945), membuktikan bahwa Jerman yang kolaps akibat kalah perang di PD I, yang dipandang kecil oleh negara-negara Eropa kala itu, menjadi kekuatan baru yang dasyat. Kebangkitan Hitler ini membuat banyak negara terkecoh. Kegagalan awal yang berarti hanyalah serangan Rusia (di Leningrad) yang akhirnya menelan banyak korban dari pihak Jerman dan berandil terhadap jatuhnya Hitler. Kita bisa melihat kesamaan antara Hitler dan Napoleon, keduanya jatuh akibat menyerang Rusia. Kegagalan Hitler juga berlanjut dari serangan-serangan sekutu yang nantinya menyebabkan terbelahnya Jerman Barat dan Jerman Timur.

Holocaust atau pembunuhan masal orang Yahudi tidak akan pernah terlupakan. Suatu tragedi terbesar mengerikan yang pernah terjadi di sejarah umat manusia dan Hitler adalah aktor utamanya. Seorang yang pandai berpidato (the best I've ever seen to be honest!), pandai berorganisasi, pandai berperang dan ambisius.

Pelajaran yang Dapat Dipetik


Subjective guilt, abusement masa kecil, tertolak, luka batin dan segala yang terjadi di masa kecil dapat mempengaruhi sifat seseorang. Walaupun psikologi manusia itu tidak bisa 'digebyah uyah' dan bersifat matematis; kalau orang itu berkepribadian A belum tentu background-nya B

Hanya mayoritas dan ini pengalaman sejarah orang yang sangat berkuasa dan terjadi seperti Hitler, "He can't effort to buy love". Kasih itu terlalu mewah baginya dan tidak pernah dimilikinya, sehingga jadilah ia manusia yang jahat. Dan inilah pentingnya kasih dalam keluarga, seorang anak harus mendapat perhatian dan kasih sayang sejak dini.

Tentu saja, banyak orang yang mengalami nasip sama dengan Hitler; "hidup tanpa kasih". Tapi itulah bedanya, bahayanya sebuah "luka batin" jika kelak menjadi seorang pemimpin, maka dia akan menjadi pemimpin yang tak terkontrol.

Latar belakang seseorang tidak mutlak harus menentukan "kekejaman, keganasan, tindak a-manusiawi dan kriminal". Ada yang berulah dan menjadi buruk perilaku karena dia berada dalam tempat dan keadaan yang mendorong dia bertindak kriminal, karena: faktor ekonomi, mungkin juga karena keracunan ideologi lalu menjadi penjahat perang, kepercayaan, politik, dan atau fanatisme agama.

Mari belajar kisah yang bertujuan untuk melihat sejarah masa lalu dan belajar dari kesalahan-kesalahan yang terjadi dari sejarah tersebut. Kekejaman Hitler misalnya. Perbuatan yang tidak dibenarkan, baik secara moral maupun agama. Apalagi kita sebagai makhluk beriman yang didalamnya selalu diingatkan akan ajaran kasih sayang kepada sesama demi pembelajaran bersama.

Ada baiknya kita mempelajari human dengan humanity touch, bukan semata-mata dengan "penghakiman". Menghakimi dengan keadilan yang epikeia (bijaksana); Seperti Allah yang sebenarnya tidak butuh kita. Yang diharapkan oleh-Nya hanya hiduplah berdampingan dengan sesama atau makhluk di dunia dengan adil, dan bersahaja.

Disarikan dari berbagai sumber ...

--------------------------------

Turen - Malang, 2 Agustus 2018

Si Pembelajar - Slamet Yuliono -

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Komentar

Bergabung bersama komunitas Guru Menulis terbesar di Indonesia!

Menulis artikel, berkomentar, follow user hingga menerbitkan buku

Mendaftar Masuk     Lain Kali