Slamet Yuliono

SLAMET YULIONO, Si Pembelajar yang ingin dan ingin terus belajar kepada siapa saja. Dan berharap dengan bimbingan dan petunjuk-Nya, bisa bermanfaat bag...

Selengkapnya
PUASA DAN PENGENDALIAN DIRI
https://kajianbudaya.com/2017/08/12/plato-tentang-epitumia-thumos-logistikon/

PUASA DAN PENGENDALIAN DIRI

Episode Artikel Khusus Ramadan (4)

PAGI ini Sabtu, 19 Mei 2018 aktivitas pembelajaran hari pertama di puasa ramadan hari ke 3 mulai berlangsung, setelah diliburkan awal puasa. Menjadi hari istimewa karena ada beberapa catatan menarik yang bisa ditulis ini, salah satunya adalah baru masuk pintu gerbang sudah disambut dengan senyum bahagia dari sejumlah siswa kelas VII dan VIII (insyaallah) ini adalah "pejawantahan" dari hikmah datangnya nikmat syukur di puasa ramadan.

Karenanya tidak ada kata yang pantas kami (warga pembelajar) ucapkan kecuali rasa syukur. Tidak ada ungkapan yang perlu kami panjatkan, kecuali beribu terima kasih. Dan tidak ada pernyataan yang wajib kami serukan, kecuali Alhamdulillah. Ya, kami harus mengucapkan semuanya itu, karena di awal masuk dan bertepatan dengan datangnya bulan ramadan ini kami mendapat sambutan manis penuh rahmad dari siswa binaan.

Kalau bukan karena kasih sayang Allah SWT yang begitu besar kepada kami, tentu kami tidak mungkin bisa menjalani bulan yang identik dengan puasa tersebut dengan baik. Sungguh, rugi besar kalau kita tidak mampu memanfaatkan bulan yang datangnya hanya setahun sekali ini dengan penuh kekhusukan, senyuman, saling sapa, dan yang pasti menambah ketekunan dalam menjalankan berbagai macam ibadah.

Berdasar sejarah sebelum ramadan tiba, Rasulullah SAW senantiasa menyampaikan khutbahnya agar para sahabat benar-benar mempersiapkan diri menyambut datangnya bulan agung ini. Beliau mengingatkan berbagai keutamaan puasa ramadan agar tidak ada hari, jam, menit, dan detik terlewatkan begitu saja. Jalani penuh ketekunan ibadah kepada Allah SWT, mantabkan jiwa hanya mengabdi kepada Yang Maha segala-galanya tersebut. Kini, di bulan ramadan ini mari kita hiasi nafas dan detak nadi kita menjadi tasbih, tidur dan istirahat kita menjadi ibadah, amal-amal baik yang kita tanam diterima, dan doa-doa kita dikabulkan.

Apakah isi khutbah yang disampaikan Nabi? Begini isinya: ”Bermohonlah kalian kepada Allah, Tuhan kalian, dengan niat yang tulus dan hati yang suci agar Allah membimbing kalian untuk melaksankan puasa (shaum) dan membaca kitab-Nya. Celakalah orang yang tidak menda­pat ampunan Allah pada bulan yang agung ini. Kenanglah dengan rasa lapar dan haus kalian, kelaparan dan kehausan di hari kiamat. Bersedekahlah kepada kaum fakir dan miskin. Muliakanlah para orang tua kalian, sayangilah yang muda, sambunglah tali persaudaraan kalian, jagalah lidah kalian, tahanlah pandangan kalian dari apa yang tidak halal kalian pandang dan perliharalah pendengaran kalian dari dari apa yang tidak halal kalian dengarkan.

Petuah penuh hikmah yang disampaikan jelang puasa ramadan, perintah yang mulai diwajibkan (untuk melakukan ibadah puasa Ramadhan) pada tahun ke 2 Hijriyah atau 624 Masehi setelah Nabi hijrah ke Madinah, bersamaan dengan disyariatkannya salat ied, zakat fitrah, dan kurban. Hal ini berarti, bahwa puasa ramadan adalah suatu ibadah yang bernilai universal dan ibadah yang disempurnakan dari umat-umat terdahulu.

Ayat Al-Quran yang seringkali dikutip oleh juru dakwah (ustaz), entah dalam kultum maupun kajian ramadan yang saya yakin pembaca sudah hafal. Semuanya terkait perintah puasa yang ada dalam Q.S 2 - 183 (Surat Al-Baqarah ayat 183). Bunyi terjemahannya sebagai berikut: ”.... Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa....”.

Muasal istilah ramadan sendiri bersumber dari kata ramidha, yarmadhu, ramadan, yang artinya sangat panas. Sehingga jika ada kalimat, armada asy-syai’, maknanya adalah membakar sesuatu. Dengan demikian, makna bulan ramadan bila diaplikasikan secara bahasa adalah bulan pembakaran. Pertanyaan yang muncul kemudian adalah: apakah yang akan dibakar? Jawabannya adalah nafsu manusia.

Lantas bagaimana cara membakar nafsu manusia itu? Caranya tentu saja tidak membakarnya secara langsung seperti kita membakar kayu atau kertas. Namun dengan cara berlapar dan menahan dahaga. Logikanya, jika manusia dalam keadaan lapar dan haus, dijamin nafsu raga manusia akan loyo, tidak punya tenaga. Kalau sudah tidak berkekuatan lagi, nafsu manusia akan mati dan tidak berkutik lagi. Nafsu manusia akan luluh bak binatang buas yang sudah dijinakkan. Yang menjadi masalah adalah apakah nafsu (manusia) memang harus dimatikan?

Kalau sampai nafsu (harfiah) manusia yang dimatikan bagaimana keberlangsungan hidupnya, mungkinkah mereka menjadi manusia yang tanpa dosa dan akan benar-benar menjadi manusia sempurna.

Memang kita sering salah dalam memahami nafsu itu sendiri. Kita biasanya mengidentikkan nafsu dengan keburukan, kebejatan, atau keserakahan. Padahal, nafsu itu secara bahasa bermakna jiwa, atau ruh. Hal itu bisa kita lihat dari firman Allah SWT, ”Dan jiwa (nafs) serta penyempurnaannya (ciptaannya). Maka, Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaan.” (QS. Asy Syams: 7-8)

Jika kita memahami ayat tersebut, maka kita dapat menyimpulkan bahwa nafsu itu ternyata bersifat netral, tidak condong kekanan tidak pula kekiri alias berada di posisi tengah-tengah. Dengan kata lain, nafsu itu tidak bersifat baik dan juga tidak bersifat buruk. Namun, dalam penciptaannya, Allah SWT hanya memberikan ilham (potensi) terhadap nafsu tersebut, yaitu nafsu bisa dibawa ke arah kebaikan dan kejahatan.

Dalam ajaran Islam, Islam tidak pernah mengajarkan untuk ‘membunuh’ nafsu. Akan tetapi, Islam datang untuk ‘mengendalikan’ nafsu manusia. Jika memang kebaradaan nafsu itu tidak untuk dimatikan. Pertanyaannya berikutnya adalah bagaimana manusia dikatakan telah dapat mengendalikan atau memenuhi tuntutan nafsu dengan benar, padahal nafsu itu senantiasa menuntut untuk dipenuhi dan dipuaskan? Jawabannya adalah nafsu senantiasa harus didam­pingkan dengan ajaran-ajaran Islam. Manusia dikatakan mengikuti hawa nafsu ketika manusia tersebut tidak mengikuti ajaran Islam.

Misalnya saja, kita mempunyai nafsu lapar, tetapi kita memenuhi rasa lapar tersebut dengan memakan makanan yang haram atau mendapatkannya dengan cara mencuri. Kita mempunyai nafsu belanja, tetapi kita memenuhinya dengan barang haram atau membeli barang tersebut dari hasil korupsi. Kita mempunyai nafsu berkuasa, namun kita mendapatkan kekuasaan itu dengan melakukan politik uang atau bermain curang saat pemilihan umum. Dan, masih contoh yang bisa kita temukan dalam diri kita sendiri atau orang lain yang mencerminkan pemenuhan hawa nafsu yang tidak sesuai dengan nilai-nilai Islam.

Oleh karena itu, memasuki puasa ramadan kali ini perlu dijadikan ‘kesempatan emas’ untuk kembali mendidik nafsu kita yang lepas kontrol selama setahun lalu. Salah satunya dengan cara mengendalikan keinginan-keinginan yang dilarang Islam. Keinginan makan, minum, berkarir, berkuasa, dan lain sebagainya harus bersandar pada semangat Islam. Harapannya, setelah ramadan selesai, kita menjadi manusia yang benar-benar suci, sungguh-sungguh kembali ke fitri.

Jangan biarkan diri kita menderita kelaparan dan kehausan dengan tidak memperoleh apa-apa, selain haus dan lapar itu sendiri. Kita lupakan pesan moral ibadah puasa yang sakral berupa menuju jalan ketakwaan. Kita tidak cukup hanya mengendalikan nafsu makan, minum, atau seks sebagaimana biasanya dalam berpuasa. Kita juga harus mengendalikan nafsu-nafsu kita yang lain yang jumlahnya banyak sekali. Semoga!

Si - Pembelajar -

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Komentar

Esensi puasa adalah pengendalian diri pak SY, tulisan yg bergizi dam bermakna, Barokallah

20 May
Balas

Ya Pak, terima kasih atensinya

20 May

Aamiin .... terima kasih Bunda yang hampir selalu perhatian atas tulisan-tulisan saya.

20 May
Balas

Sami-sami...pak guru.

20 May

Untuk melihat "ketaqwaan" seseorang ternyata tidak hanya semata bagaimana dia melaksanakan shalat, puasa dan perintah Allah SWT yang lainnya. Tetapi justru dapat dilihat dari bagaimana dia "mengendalikan" diri ketika bersikap terhadap sesama. Jazakillah khoir...pak guru untuk ilmu yang sangat bermanfaat ini. Salam sehat dan sukses selalu. Semoga mencapai mardhatillah. Barakallah.

20 May
Balas

Aamiin ...

20 May

Terimakasih Pak Slamet

20 May
Balas

Terimakasih Pak Slamet

20 May
Balas

Terimakasih Pak Slamet

20 May
Balas

Terimakasih Pak Slamet

20 May
Balas

Terimakasih Pak Slamet

20 May
Balas

Terimakasih Pak Slamet

20 May
Balas

Terimakasih Pak Slamet

20 May
Balas

Terimakasih Pak Slamet

20 May
Balas

Terimakasih Pak Slamet

20 May
Balas

Terimakasih Pak Slamet

20 May
Balas

Terimakasih Pak Slamet

20 May
Balas

Terimakasih Pak Slamet

20 May
Balas

Terimakasih Pak Slamet

20 May
Balas

Terimakasih Pak Slamet

20 May
Balas

Sama-sama Bu .... masih belajar

20 May

Bergabung bersama komunitas Guru Menulis terbesar di Indonesia!

Menulis artikel, berkomentar, follow user hingga menerbitkan buku

Mendaftar Masuk     Lain Kali