Slamet Yuliono

SLAMET YULIONO, Si Pembelajar yang ingin dan ingin terus belajar kepada siapa saja. Dan berharap dengan bimbingan dan petunjuk-Nya, bisa bermanfaat bag...

Selengkapnya
Ramadan Sebagai Bulan Pendidikan Karakter
http://j-cul.com/apa-yang-bisa-dilakukan-otaku-muslim-pada-saat-bulan-ramadhan/

Ramadan Sebagai Bulan Pendidikan Karakter

Episode Artikel Khusus Ramadan (7)

MINGGU-minggu ini bagi siswa yang duduk di kelas 1 hingga 5 (jenjang SD); kelas 7 dan 8 (jenjang SMP); dan 10 dan 11 (SMA/SMK) memasuki masa krusial berupa Ulangan Kenaikan Kelas (UKK) atau ada istilah lain Ulangan Akhir Tahun (UAT).

Namun patut disayangkan UAT (mudah-mudahan ini hanya ada di sekolah penulis), tindak kecurangan seperti mencontoh pekerjaan teman di samping atau di depan masih sering terjadi. Bagi mereka yang "maaf" hoby mencontek ada CCTV atau didampingi pengawas ruang bukan halangan untuk mencari celah dan berusaha dengan segala cara untuk mencontek. Mereka yang berpikir cerdas dan menganggap CCTV itu fungsinya hanya dipakai saat darurat, ada pencurian atau kehilangan saja. Untuk urusan yang lain (mencontek) lewat, apalagi kalau pengawasnya sedikit longgar curi-curi kesempatan semakin banyak, tidak peduli itu di bulan suci ramadan.

Kejadian ini sempat penulis ingatkan, agar UAT kali ini dilakukan dengan baik dan jujur mereka (siswa) hanya senyum simpul dan saat pengawas lengah sedikit upaya mencontek kembali dilakukan. Peringatan juga sempat saya lontarkan pada salah satu siswa yang maaf "bandel", dan dengan gamang mereka menjawab: ".... masak Bapak tidak pernah mencontek ....". Atau jawaban senada: ".... nanti akan saya bertobat dan minta maaf Pak....".

====

Berusaha baik dan benar sekaligus menjadikan siswa berkarakter sesuai dengan keinginan "The Founding Fathers" tidaklah semudah membalikkan tangan. Dibutuhkan proses panjang berliku. Diharapkan dengan datangnya bulan ramadan bulan penuh ampunan sekaligus bulan baik setidaknya bisa dijadikan wahana yang tepat untuk menanamkan karakter.

Belajar dan sekaligus melihat rusaknya mental anak bangsa ini, maka tidaklah berlebihan jika kita jadikan sebagai madrasah ramadan sebagai momentum awal membentuk sumber daya manusia Indonesia yang berbudi pekerti luhur.

Nilai-nilai luhur yang dimiliki bangsa Indonesia, yang mayoritas penduduknya beragama Islam, masyarakat religius, yang selalu berpedoman kepada nilai-nilai ajaran Islam, saat ini banyak mengalami pergeseran sehingga sangat mengkhawatirkan kita semua. Ibarat penyakit dia sudah kronis, menggrogoti tubuh manusia.

Lihatlah korupsi tidak mampu dibe­rantas secara tuntas, dari pejabat teras sampai tingkat bawahan bermain-main dengan korupsi. Korban narkoba semakin banyak, aparat penegak hukum, para pejabat abdi negara yang sejatinya menjadi contoh memberantas benda haram ini justru banyak yang terjerumus di dalamnya. Pornografi dan prostitusi merajalela, bahkan difasilitasi dengan menyediakan tempat pelacuran dan memberikan kondom gratis.

Banyak anak bayi yang digugurkan, dibuang sia-sia, para pelajar melakukan tawuran dan perkelahian, masyarakat yang menjarah, merampok dan membunuh orang lain tanpa perikemanusiaan kerap kita dengar atau kita lihat langsung melalui media.

Nilai-nilai kejujuran, kesabaran, sopan santun, kasih sayang terhadap sesama telah hilang, perasaan takut melanggar norma-norma agama mengalami degra­dasi dan sedikit demi sedikit terkikis dalam diri anak bangsa akibat dampak globalisasi. Barangkali tidak cukup me­nuliskan satu persatu hilangnya karakter yang menjadi ciri khas masyarakat masyarakat kita hari ini.

Syauki Beik seorang ulama Mesir pernah berkata: " .... suatu bangsa akan hancur binasa manakala akhlak penduduknya sudah rusak ...”. Rusaknya mental dan moral anak bangsa ini kalau tidak segera diperbaiki lambat laun akan menghancurkan eksistensi negara yang kita cinta ini.

Tidaklah berlebihan jika kita optimis dan berharap madrasah ramadan dapat memberikan solusi terbaik membangun budi pekerti luhur yang telah hilang. Karakter yang memungkinkan dibangun melalui madrasah ramadan itu diantaranya:

a. Kejujuran dan Amanah

Rasulullah SAW. mengingatkan bahwa amal ibadah yang dikerjakan seorang Muslim untuk dirinya sendiri kecuali puasa, kita persembahkan dengan ikhlas hanya untuk Allah SWT, wa ana ajzi bihi (Akulah (Allah) yang akan membalas, memberikan ganjaran pahalanya). Seorang Muslim yang sedang melaksanakan berbagai ibadah seperti shalat, puasa, sedekah dan lain-lain berada dalam pantauan Tuhan. Semua gerak gerik, perkataan, perbuatan sembunyi-sembunyi dapat diketahui langsung, konon lagi jika dilakukan secara terang-terangan.

Di tengah kesendirian, tatkala manusia tidak ada yang melihat apa yang diperbuat anak cucu Adam, Allah me­nguji kejujuran kita, apakah mela­kukan perbuatan curang, berkhianat atau mak­siat. Kendati manusia lain tidak melihat namun ada waskat (penga­wasan ketat) malaikat yang mencatat semua amal shalihat dan maksiat yang kita kerjakan.

Apabila manusia merasa Tuhan selalu memantau dan mengawasinya dalam ber­bagai hal, maka akan berhati-hatilah dia dalam setiap ucapan maupun per­buatan untuk tidak melanggar larangan-Nya tatkala sepi maupun ramai. Kejujuran merupakan pilar utama menegakkan amanah, amanah tidak bisa tegak manakala tiang penyangga­nya keropos.

b. Disiplin menjalankan perintah dan takut Tuhan

Menurut Syaikh Muhammad bin Shaleh al-Utsaimin dalam Kitab al-Ushul min Ilmi al-Ushul kata perintah (al-amru) mengandung arti permintaan untuk dilakukannya suatu perbuatan dalam bentuk al-isti’la yaitu dari yang lebih ting­gi ke yang lebih rendah. Di sini Allah swt. memerintahkan hamba-Nya, se­perti perintah mendirikan shalat dan zakat,”Dirikanlah shalat dan keluar­kanlah zakat”.

Bentuk perintah secara mutlak memberi satu konsekuensi bahwa se­suatu itu wajib untuk dikerjakan dan segera melakukannya secara langsung. Al-Qur’an telah menegaskan,” Maka hendaklah orang-orang yang menye­lisihi perintah Rasul takut akan ditimpa fitnah atau ditimpa azab yang pedih “ (QS. An-Nur: 63).

Allah SWT telah memperingatkan kepada mereka yang menyelisi perintah Rasul bahwa mereka akan tertimpa fitnah yaitu kesesatan atau Allah akan memberikan azab yang pedih. Ini menunjukkan bahwa perintah Rasul saw. secara umum menunjukkan wajibnya perbuatan yang diperintahkan.

Semua perintah secara syar’i merupakan kebaikan dan perintah untuk berlomba-lomba dalam mengerjakan­nya merupakan bukti bahwa perintah itu harus segera dilaksanakan. Imam Syafi’i mengemukakan bahwa Allah SWT memerintahkan kepada kita untuk mengambil apa yang disampaikan Rasul dan menjauhi apa yang dilarang­nya,”Apa yang diberikan Rasul kepada­mu terimalah dia, dan apa yang dilarang­nya bagimu maka tinggalkanlah “(QS. Al-Hasyr:7).

Sedangkan larangan (an-nahyu) me­ngandung arti permintaan untuk me­ning­galkan suatu perbuatan dari yang lebih tinggi ke yang lebih rendah yaitu Allah SWT memerintahkan hamba-Nya agar meninggalkan perbuatan yang dilarang dalam Islam.

Rangkaian ibadah demi ibadah yang dilakukan seorang Muslim di bulan suci ramadan bukti kepatuhan terhadap perintah Tuhan, orang-orang beriman akan patuh, pasrah dan segera melak­sanakan perintah ilahi tepat waktu, untuk meraih dan memperoleh kemulia­an di sisi Tuhan.

Ketaatan dan kedisiplinan yang tertanam selama berada di ramadan sejatinya mampu membentuk karakter manusia Indonesia yang berdisiplin, tepat waktu, bersegera menjalankan tugas dan kewajiban dengan penuh kesadaran dan tanggung jawab, serta memiliki perasaan takut melanggar peraturan yang telah ditetapkan. Jika ini tertanam dengan baik akan bermun­culan manusia Indonesia yang meme­gang teguh disiplin dalam berbagai hal, tidak mudahnya me­langgar rambu-rambu yang sudah ditetapkan.

c. Kasih sayang dan tidak Sombong terhadap sesama

Seorang Muslim yang berpuasa dari terbit sampai terbenamnya matahari akan merasakan dahaga dan lapar yang luar biasa, seperti yang di alami si mis­kin. Pendidikan karakter yang dita­namkan Tuhan agar kita memiliki pera­saan seperti yang dialami saudara-sau­dara kita si miskin, yang kadang-kadang harus ber­puasa karena tidak mempe­roleh sesuap nasi.

Menyayangi, menga­sihi dan mau membagi sedikit rezeki yang telah dilatih dan tertanam selama Ramadan menjadi misi utama Ramadan dalam membentuk karakter bangsa ini. Kesom­bongan akan sirna, perasaan lebih dari yang lain akan hilang mana­kala kita mera­sa senasib sepe­nang­gungan.

d. Kesabaran

Kesabaran berperan penting dalam kehidupan, kesuksesan akan diraih oleh orang-orang yang tekun dan sabar meraih cita-cita. Ketika melaksanakan ibadah harus khusyu’ dan sabar, agar memperoleh hasil yang sempurna. Mendapatkan ujian sabar, saat mempe­roleh nikmat juga harus sabar menggu­nakan nikmat tersebut tepat sasaran.

Ibadah puasa yang dijalani kaum muslimin maupun ibadah-ibadah lain selama berada di ramadan menuntut kesabaran bagi yang melakukannya. Tanpa kesabaran, ketekunan akan sulit menggapai kesuksesan. Karakter sabar yang tertanam dalam diri kita selama mengikuti pendidikan di madrasah ramadan sebagai bekal menjalani kehidupan.

Di akhir tulisan ini sepatutnya kita bermunajad, semoga ramadan yang sudah kita jalani dan sudah memasuki hari ke tujuh ini, mampu membentuk kita dan anak-anak generasi penerus bangsa menjadi manusia berkarakter mulia. Karakter mulia di bawah naungan Allah yang Maha Adil dan pemberi Berkah. Aamiin ....

*) Slamet Yuliono -Si Pembelajar- kini Mengajar di SMP Negeri 1 Turen Kab. Malang

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Komentar

Aamiin...

23 May
Balas

Terima kasih Bunda, atas atensinya ....

23 May

Aamiin ya robbal alaamiin. Semoga mencapai mardhatillah. Salam sehat dan sukses selalu ...pak guru. Barakallah.

23 May
Balas

Terima kasih Bunda, telah mau melihat dan membacanya ....

23 May

Aamiin... Sesama pendidik, kt berkeinginan utk mencetak "generasi emas". Tp tantangan kemajuan zaman jg byk. Smg kt bs... dg izin Allah tentunya. Salam kenal dr Sukoharjo Jateng yg hy guru SD. ☺

23 May
Balas

Terima kasih Bunda. Salam kenal ....

23 May

Bergabung bersama komunitas Guru Menulis terbesar di Indonesia!

Menulis artikel, berkomentar, follow user hingga menerbitkan buku

Mendaftar Masuk     Lain Kali