Slamet Yuliono

SLAMET YULIONO, Si Pembelajar yang ingin dan ingin terus belajar kepada siapa saja. Dan berharap dengan bimbingan dan petunjuk-Nya, bisa bermanfaat bag...

Selengkapnya
Spirit Toleransi dan Kerukunan di Ramadan Berkah
https://jalandamai.org/sinergi-ulama-nkri-dan-pancasila.html

Spirit Toleransi dan Kerukunan di Ramadan Berkah

Episode Artikel Khusus Ramadan (13)

SIMPATIK sekaligus bangga dua kata yang patut penulis sampaikan kepada siswa yang masih punya rasa toleransi kepada umat islam. Ini terjadi saat penulis sempat tanyakan pada salah salah satu siswa non muslim merespon pertanyaan penulis: " ... kok tidak "ngemil". " ... Ya pak, demi teman dan sekaligus menghormati mereka yang sedang puasa hari ini saya coba puasa sementara hehehe .... ".

Tak berbeda seperti yang terjadi di hari ini: Selasa, 29 Mei 2018 Masehi bertepatan dengan tanggal 13 Ramadan 1439 H saudara kita yang beragama Buddha juga sedang merayakan Hari Raya Waisak ke - 2562. Sungguh satu peristiwa yang indah dan langka dalam pemaknaan keduanya sebagai momen latihan spiritual di waktu yang bersamaan. Meskipun berbeda nama, berbeda maksud perayaannya, dan berbeda cara menjalaninya. Tetapi dalam "laku"nya tetap bersandar pada pelatihan spiritual untuk mencapai kemurnian diri menuju pencerahan.

Pencerahan diri yang ingin dicapai dalam memperjuangka pelatihan spiritual hingga pada saatnya mencapai gelar tertinggi yang di (islam) bernama muttaqin. Hal ini menjadi sumber inspirasi bahwa siapapun yang melatih diri dengan benar, sungguh-sungguh dan konsisten akan mampu memperoleh pencerahan yang sempurna. Tentu saja untuk mencapainya bukan perkara mudah dan instan. Musuh yang harus dihadapi dan ditaklukkan amatlah berat, yaitu: ‘diri sendiri’.

Di dalam diri kita bersemayam musuh-musuh tangguh berwujud kotoran batin. Kotoran batin seperti kemarahan, kedengkian, keserakahan, ketidakpedulian, kemalasan dan keegoisan adalah penghalang utama bagi pencapaian pencerahan. Semuanya amat sulit ditaklukkan kecuali dengan usaha yang gigih dan konsisten melalui latihan spiritual setiap saat dalam kehidupan di keseharian kita.

Latihan spiritual mendasar yang perlu kita praktikkan pada awalnya adalah pengendalian diri. Sederhananya pengendalian diri adalah latihan mengawasi, menahan dan menjaga pikiran, ucapan maupun tindak-tanduk dari hal-hal negatif yang dapat menimbulkan kerusakan, luka, perpecahan dan penderitaan makhluk lain. Puasa, tapa brata, tapa ngrame, praktik susila (aturan moral dan etika) adalah cara-cara pengendalian diri yang sudah dilakukan nenek moyang, sejak zaman dulu. Kehati-hatian adalah ciri pengendalian diri. Berhati-hati dalam berfikir, selalu melihat ke dalam diri terlebih dahulu sebelum memutuskan. Melihat ke dalam diri apakah dalam pikiran kita ada rasa benci, serakah, kesombongan dan emosi negatif lainnya? Berhati-hati dalam ucapan baik lisan maupun tulisan. Meneliti ke dalam apakah yang akan kita ucap dan tuliskan terdapat unsur kebohongan, ada unsur kebencian dan apakah melukai lainnya? Berhati-hati dalam bertindak, apakah tindakan ini merugikan, merusak, menciderai, mendiskriminasi dan menyebabkan ketidakharmonisan bagi makhluk lainnya?

Tanpa pengendalian diri ini di tengah pendalaman demokrasi bangsa kita saat ini kebebasan berekspresi, berpendapat dan mengembangkan diri bisa saja menuju demokrasi yang kebablasan. Menjadi ajang saling hujat dan mencela penuh kebencian, yang tak mengindahkan aturan-aturan yang berlaku. Kebebasan mengembangkan diri menjadikan kita egois yang hanya memikirkan diri atau kelompok sendiri. Nilai-nilai kebersamaaan, persatuan, gotong royong, kerukunan akan terus memudar karenanya.

Bangsa ini menuju ke masa kegelapan jika tiap-tiap diri kita tidak mempunyai pengendalian diri dalam pikiran, ucapan dan perbuatan. Kita telah melihat dan merasakan betapa mengerikan akibat tiada pengendalian diri di era kebebasan demokrasi saat ini. Ujaran kebencian, berita hoax, main hakim sendiri jamak kita temui di negeri ini. Kerugian material, waktu, produktivitas kerja bahkan hingga nyawa acap kali kita rasakan. Oleh karena itulah latihan pengendalian diri adalah mutlak dilakukan demi menyongsong masa depan bangsa yang lebih tercerahkan.

Momentum Waisak, Ramadan yang berdekatan dengan hari lahir Pancasila 1 Juni, semoga menjadi pengingat pentingnya pengendalian diri Bangsa Indonesia. Nilai-nilai relijius yang terkandung dalam setiap agama dan kepercayaan di Indonesia adalah modal dasar pencerahan diri, masyarakat dan bangsa negara kita. Pancasila sebagai pandangan hidup bangsa telah meracikkan nilai-nilai reljius tersebut dengan sangat dalam dan dapat diterima semua umat beragama di Indonesia.

Kesamaan langkah dengan cara ritual berbeda bukan penghalang untuk menjaga toleransi antara hari raya Waisak 2562 di tahun 2018 bagi umat Buddha dengan sikap dan laku dalam menjalankan ibadah puasa Ramadan bagi para sahabat muslim.

Selamat melatih pengendalian diri hidup dalam keberagaman di negara Indonesia dengan prinsip: " ..... Lakum Dinukum Waliyadin yang merupakan ayat ke-6 dari surat Al Kafiiruun yang terjemahannya adalah: “ ... Untukmu agamamu, dan untukkulah, agamaku .... ”.

Semoga masyarakat Indonesia hidup berbahagia dalam ikatan persaudaraan dalam menjalin Ukhuwah Insaniyah (Merasa dan mengakui bahwa seluruh umat manusia di dunia adalah saudara kita, tidak ada perbedaan yang menjadi dasarnya untuk saling bermusuhan, karena tidak ada satu manusiapun yang hidup dalam keabadian. Dan Ukhuwah Wathaniyah (saling menjaga kerukunan antar umat beragama dan membudidayakan rasa saling membutuhkan, saling menghargai, dan menghormati perbedaan yang ada didalam negara kesatuan republik indonesia serta bersama sama menjunjung tinggi martabat bangsa di mata bangsa lain. Semoga !

Slamet Yuliono - Si Pembelajar -

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Komentar

Bergabung bersama komunitas Guru Menulis terbesar di Indonesia!

Menulis artikel, berkomentar, follow user hingga menerbitkan buku

Mendaftar Masuk     Lain Kali